Rabu, 15 Mei 2013

kearifan lokal psisir caringin kecamatan labuan kab pandeglang - Banten

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pantai Caringin di kampung caringin kecamatan labuan, mungkin untuk sebagian wisatawan yang mendengar, nama pantai ini sedikit asing di telinga. Itu dikarenakan kurang promosi nya baik oleh mayarakat setempat maupun oleh Dinas Pariwisata itu sendiri. Tapi ke-elokan serta panorama dan nuansa yang ada di pantai ini bisa di bandingkan dengan pantai-pantai di Banten pada umumnya. Walaupun tidak sekeren pantai Anyer maupun Pantai Carita.

Meskipun pantai ini jarang di kunjungi oleh para wisatawan asing maupun wisatawan domestik, Pantai Caringin ini banyak didatangi oleh penduduk sekitar yang ada di kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang ini. Pantai Caringin ini banyak di kunjungi oleh anak-anak sekolah khsusnya pada waktu Minggu pagi dan hari libur, dikarenakan biaya yang dikeluarkan tidak begitu mahal alias sangat merakyat sekali dan untuk pergi ke pantai carita jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat tinggal mereka.
Sejarahnya  Caringin yang kini hanya sebuah Desa, pernah menjadi Ibu Kota Kabupaten Banten Barat. Setelah daerah ini hancur lebur akibat letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 Ibu Kota Kabupaten itu dipindahkan ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.
Meski sejak itu Caringin terdegradasi menjadi Desa, bagi perjalanan Sejarah Banten walau bagimana pun juga Caringin tetaplah daerah penting akan mengingat sejarah perjuangannya yang di pimpin oleh K.H. Syekh Asnawi sewaktu masih hidup.
KH.Asnawi lahir di Kampung caringin sekitar tahun 1850 M, ayah beliau bernama Abdurrahman dan ibunya bernama  Ratu Sabi’ah dan merupakan keturunan ke 17 dari Sultan Ageng Mataram atau Raden Fattah .Sejak umur 9 tahun Ayahnya telah mengirim Kh.Asnawi ke Mekkah untuk memperdalam Agama Islam. Kembalinya dari mekah beliau muali berdakwah ke berbagai daerah.  Tahun 1937 KH. Asnawi berpulang kerahmtulloh dan meninggalkan 23 anak dari lima Istri ( Hj.Ageng Tuti Halimah, Hj Sarban, Hj Syarifah, Nyai Salfah dan Nyai Nafi’ah ) dan di maqomkan di Masjid Salfiah Caringin , hingga kini Masjid Salafiah  Caringin dan maqom beliau tak pernah sepi dari para peziarah baik dari sekitar Banten maupun dari berbagai daerah di tanah air.
Pantai Caringin yang ada di Kecamatan labuan Kabupaten Pandeglang ini, justru terkenal dengan wisata ziarahnya. Yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan ialah wisata ziarah makam K.H. Syekh Asnawi bin H. Abdurohman yang biasa disebut dengan Mama Asnawi.
Karena lokasinya sangat dekat dengan pantai, caringin juga di jadikan tempat untuk rekreasi atau berwisata bagi masyarakat luar, karena itu setiap bulannya selalu ramai oleh para peziarah atau pun yang hanya sekedar pergi ke pantainya.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan disusunnya  makalah ini adalah untuk :
Dapat memahami kearifan lokal pada masyarakat pesisir di Kampung Caringin peziarahan desa caringin kecamaan labuan Pandeglang – Banten.

1.3. Manfaat
Penulisan Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi :
Dapat bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan terutama khususnya bagi penulis untuk menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman agar mampu melaksanakan kegiatan pada saat bekerja atau terjun ke lapangan langsung.
Dapat membantu mahasiswa lainnya sebagai referensi atau contoh apabila mengambil topik bahasan yang sama


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sistem Kemasyarakatan
  1. Pengertian sistem kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan adalah sistem dari keseluruhan komponen fundamental sebagai dasar pergerakan yang dinamis dari determinan struktur sosial/masyarakat.
Sistem kemasyarakatan (sistem sosial) tumbuh dan berkembang tidak secara kebetulan melainkan secara sengaja, diatas standar penilaian umum yang disepakati bersama oieh para anggota masyarakat (norma)

  1. Sistem Masyarakat   Caringin.
Dilihat dari sudut pandang lingkungan masyarakat pesisir ini memiliki rasa gotong toyong dan partisipasi yang  cukup tinggi untuk kemajuan daerahnya. Di samping itu masyarakat sangat menjaga norma norma yang berlaku dalam masyarakat mengingat bahwa tempat tinggal yang mereka tempati adalah tempat dimana perjuangan K.H. Syekh Asnawi sewaktu masih hidup dan tempat dimakamkannya. Dimana masyarakat sangat menghargai dan menghormati sejarah perjuangan beliau dalam menyebarkan agama islam.


2.2. Sistem Kekerabatan
a         Pengertian sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan merupakan bagian yanga sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas  ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya.
Masih ada masyarakat yang memakai nama-nama keturunan seperti Raden, Tubagus, Aip, dan lain lain, dapat dikatakan hubungan kekerabatan satu sama dalam masyarakat ini sangat baik,
Menurut bapak sam’ani salah satu ustd di kampong caringin ini, mengatakan bahwa “hubungan  kekerabatan d kampung dari budaya dan kehidupan masyarakatnya masih kental dengan unsur unsur agama islam. Misalnya pada saat hari besar agama islam masyarakat bergotongroyong  untuk membuat acara sebagai memperingati hari besar tersebut dan banyak dari mereka berziarah ke makam K.H. Syekh Asnawi untuk mendoakan beliau bukan untuk berdoa kepada beliau. Tidak hanya itu biasanya sanak saudara dari kampung atau daerah luar juga berkumpul hanya untuk ikut berziarah ke makam K.H. Syekh Asnawi”.


2.3. Sistem Mata Pencaharian
a         Pengertian sistem mata pencaharian 
Sistem mata pencaharian adalah cara yang dilakukan oleh sekelompok orang sebagai kegiatan sehari-hari guna usaha pemenuhan kehidupan, dan menjadi pokok penghidupan baginya
Caringin merupakan daerah pesisir yang mempunyai keadaan dengan pantai yang tenang dan teduh, sehingga banyak anak anak yang bermain saat libur sekolah untuk mencari  ikan-ikan kecil atau kepiting di sela-sela batu karang.  terkait dengan sistem mata pencaharian masyarakat mungkin kita berfikir bahwa di caringin ini mayoritas masyarakat bermatapencaharian sebagai nelayan, tetapi menurut salah seorang pelatih paskibra, Firman Subhi , bahwa “ mata pencaharian masyarakat sebagian besar sebagai pedagang, karena caringin selalu ramai di kunjungi para peziarah. Kemudian PNS, dan yang terakhir nelayan dan bertani. Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan hanya orang orang yang mempunyai perahu saja dan di caringin ini tidak banyak orang yang mempunyai perahu untuk mencari ikan.
Menurut masyarakat setempat “Pemerintah daerah akan memberikan sarana dan prasarana untuk kebutuhan nelayan berupa perahu nelayan dan alat alatnya , ini di harapkan akan mencukupi kebutuhan ikan di desa ini, agar masyarakat dapat meningkatkan daya jual ikan.
sebagai daerah wisata yang masih kurang di ketahui banyak orang, caringin merupakan tempat yang sangat berpotensi sebagai tempat wisata, selain memepunyai tempat berziarah yang terkenal caringin pun memiliki keadaan pantai yang cukup tenang dan indah, hanya saja ada beberapa akses jalan setapak yang masih becek dan berlumpur untuk masuk tempat ziarah atupun ke pantainya. jika pemerintah lebih peka dan dapat mengelola dengan baik, tetapi tidak mengubah ciri khas dari tempat ini, tentunya dapat memberikan keutungan bagi masyarakat maupun bagi pemeritah setempat dalam hal pendapatan.

2.4. Pengaruh Pimpinan Adat Dalam Masalah Hukum Di Masyarakat
Dalam kelompok masyarakat tentunya akan ada yang di tunjuk sebagai pemimpin untuk mengarahkan kelompoknya untuk kepentinngan dan kebaikan bersama.  Begitu pula di pesisir caringin ini, ada orang yang di tuakan atau di anggap sesepuh oleh masyarakat di sini, yaitu H.TB. A. Ulfi FaruQ, SYLC, Aip Ali, dan masih banyak yang lainnya. Masyarakat menilai dari segi ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan beliau.
Tidak ada hukum adat yang khas disini, norma - norma yang berlaku sama seperti di daerah lainnya seperti Norma Agama, Norma Kesusilaan, Norma Kesopanan, Norma Kebiasaan, Norma Hukum. Hanya saja di sesuaikan dengan daerah masing masing. adapun masalah dalam lingkup masyarakat juga masih bisa di selesaikan secara kekeluargaan. Maka tidak perlu di bawa ke meja hijau. Itulah fungsi hukum atau peraturan di masyarakat.

2.5. Sistem kepercayaan dan upacara religius
Setiap daerah mempunyai sistem kepercayaan yang berbeda, contohnya saja di desa tetangga yaitu desa Teluk dan Carita, di setiap setahun sekali mereka akan mengadakan acara yang di sebut “ Ngaruat” yaitu Sebagai ungkapan rasa syukur nelayan atas nikmat dari Allah Yang Maha Esa, malakukan penghormatan terhadap leluhur, memohon mendapat hasil melimpah di masa mendatang, dan terhindar dari roh-roh jahat.
Menurut bapak Sam’ani, caringin lebih memegang ajaran islami. Kercayaan lain seperti “ngaruat” tidak ada di kampung ini, adapun masyarakat hanya memperingati hari - hari besar agama islam. Seperti, maulid nabi Muhammad SAW, isra’ Mi’raj, dan lain lain. di caringin masih kental dengan agama islaminya, karena selain kampung tersebut tempat sebagai salah satu tempat berjiarah, di caringin ini pun banyak tokoh tokoh agama dan pondok pesantren.


 BAB III
PENUTUP

   3.1. Kesimpulan

 Dari semua yang telah dipaparkan bahwa masyarakat pesisir pantai caringin masih memegang adat istiadat daerah tersebut dan masih kental terhadap unsur islaminya. Mastarakatnya pantai caringin rata-rata mata pencaharian mereka adalah pedagang, pegawai negeri, pelayan  dan tani. Untuk tokoh-okoh masyarakatnya di daerah caringin memang masih banyak untuk di setiap kampung, tapi ada salah satu yang di tuakan. di caringin masih kental dengan ajaran islaminya karena di caringin masih banyak tokoh-tokoh masyarakat islami dan tempat-tempat pondok pesantren.

3.2. Saran
 caringin merupakan tempat wisata yang indah, hanya saja kurangnya pemeliharaan dan promosi menjadikan pantai caringin terlihat kurang sedap di pandang mata. memperbaiki jalan jalan yang berlumpur, becek, penataan tata ruang pantai caringin dan  lebih di lengkapi saran dan prasarananya. pemerintah harus mampu menjadikan caringin sebagai tempat wisata yang islami.




Lampiran – Lampiran


pantai caringin yang terlihat tenang

para pedagang di sekitar pantai

 anak anak yang sedang mencari ikan ikan kecil di sela sela batu karang



perahu nelayan di sekitar pantai caringin


 penataan lokasi kurang diperhatikan pemerintah


akses jalan masuk pantai dan tempat jiarah sangat becek dan berlumpur jika hujan tiba.

 masyarakat sekitar yang sedang memancing


 

Firman Subhi

   

Tania Leo

saya sendiri.......





                    





                                                                                                       


































Pantai ramai oleh anak anak yang sedang mencari ikan jika sedang berlibur






                                                    

































Tidak ada komentar:

Posting Komentar